Kecerdasan (intelligence) ditentukan oleh IQ (nature) dan interaksi seseorang dengan lingkungan dan dunianya (nurture). Seseorang akan berhasil dalam kehidupannya, apabila dapat meng-utilize kedua faktor diatas – nature & nurture.
Dalam era modern yang kemajuan teknologi dan ketersediaan infomrasi yang melimpah ruah, kecerdasan seseorang dikatagorikan dalam dua tingkat berpikir (Level of Thinking): Lower level of thinking (LLT) dan Higher level of thinking (HLT).
LLT mencakupi tingkat berpikir secara naluri (awerness) dan information (knowing bukan knowledge), kemudian HLT mencakupi tingkat berpikir Knowledge (know how), creative, dan arif (wisdom). Pada tingkat LLT, manusia berpikir secara naluriah, sesuai dengan apa yang telah dia bangun dan dia pelajari sejak kecil, dalam berinteraksi dengan orang disekitarnya dan dunianya, yang tumbuh menjadi sesuatu yang “dipercayai” atau “beliefs”, sehingga sifatnya absolut, kaku dan dianggap sebagai kebenaran. Seluruh informasi tentang dunia yang diterima melalui TV, radio, film, buku, internet, seminar, diskusi, persekutuan, mesjid, gereja, sekolah, arisan, dan sebaginya dicernakan berdasarkan sistim percaya dia. Pada tingkat berpikir yang lebih tinggi, pengetahuan (berupa informasi yang diterima diatas), disaring dan disortir secara kritis untuk menjadi pengetahuan yang nantinya dapat diterapkan untuk kepentingan umum (manusia dan lingkungan) maka disebut know-how: contohnya ilmu ekonomi, kedokteran, kimia, energi, hukum, sosial, falsafah, psikologi, agama. Karena tingkat know how telah dilalui secara kritis, maka dia akan menjadi kreatif. Dalam katagori ini tingkat berpikir seseorang akan mampu menerapkan know-how-nya dalam hasil karya seperti: management, perbankan, telepon, TV, radio, kapal terbang, dan sebagainya. Dan akhirnya diperlukan kearifan atau wisdom untuk menginvent pemikiran kreatifnya agar tidak untuk disalahgunakan dan harus bermanfaat bagi kemanusiaan dan lingkungan. Contohnya seperti: HP, nuklir, pupuk organik, obat, mobil bus, pesawat komersil, bank syariah, rekayasa enginiring, dan sebagainya. Kemajuan teknologi dan apa yang kita sebut sebagai dunia modern adalah hasil dari tingkat berpikir kreatif. Sedangkan masyarakat dan negara-negara yang arif akan menggunakan kemajuan teknologi untuk kesejahteraan manusia dan lingkungannya, sehingga dapat dipergunakan oleh turun temurunnya, bukan untuk dihabiskan dan digarap habis-habisan pada saat ini.
Level of Thinking yang membedakan suatu masyarakat dengan masyrakat lainnya, satu negara dengan negara lainnya. Jadi, bila kita ingin membangun masyarakat atau negara, maka kita harus membangun mental-perilaku melalui tahapan-tahapan diatas. Bangsa Indonesia, sebagai kumpulan masyarakat dan sebuah negara masih dalam tingkat kecerdasan rendah, karena lebih menggunakan informasi dengan acuan sistim percaya individu yang bersifat naluriah. Contohnya, kebersihan, kesehatan, kepemimpinan, managemen, hukum, sosial, ekonomi, masih digunakan secara egois dan sesuai dengan naluri individu – untuk itu kita sebut tidak ada sistim sosial sama sekali. Terima kasih. Jesse Monintja
Level of Thinking (Intelligences)
October 16, 2009 by chbbandung
terima kasih atas penjelasannya pak, tapi ada ga cara kita ngukur level of thingking secara individu ??
bagaimana korelasi antara ‘level of thingking’ dengan ‘level of intelligence’ (yg diukur dgn IQ) seseorang ?
Level of Thinking tidak diukur seperti mengukur IQ, tetapi diukur dari cara kita berperilaku. Apakah perubahan terjadi dibanding masa lalu. LOT diperlukan untuk memenuhi pertanyaan seperti: “mengapa saya tidak berubah”, “mengapa saya tidak berhasil”, “mengapa saya tidak dapat mengambil keputusan”, “mengapa saya tidak dapat menyesuaikan diri”. LOT adalah tingkatan untuk mengembangkan mindset yang bertumbuh dalam segala aspek kehidupan.
Level of Thinking dibangun dari sebuah sistim pembelajaran individu. Dimulai dari meng-assess LOT saat ini. Dan dengan pembelajaran meningkatkan LOT. LOT tidak ditentukan oleh level of intellectual (pendidikan), tapi ditujukan untuk membangun diri menjadi pribadi dengan mindset yang bertumbuh (Dr. Carol Dwek). LOT dibutuhkan untuk menilai dunia disekitar kita dan bagaimana merespons secara rasional dan masuk diakal dan tidak menyakitkan diri. LOT sepenuhnya didasari atas “self-acceptance” maka ukurannya sangat individual.